Bersegeralah Dalam Menjalankan Perintah Allah

Jangan Menunda-nunda Kebaikan

Rasulullah saw. berpesan untuk kita :
Bersegeralah beramal sebelum datang berbagai fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. (Saat itu) di pagi hari seseorang beriman tapi di sore harinya ia menjadi kafir. Di sore hari seseorang beriman tapi di pagi harinya ia kafir. Ia menjual agamanya dengan harta dunia. (HR. Muslim dari Abû Hurairah) .

Contoh yang di lakukan Rasulullah saw :

Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Abû Sarû’ah, beliau berkata:
Suatu saat aku shalat Ashar di belakang Nabi saw. di Madinah. Kemudian beliau saw. membaca salam dan cepat-cepat berdiri, lalu melangkahi pundak orang-orang yang ada di masjid menuju ke sebagian kamar istrinya. Maka orang-orang pun merasa kaget dengan bergegasnya Nabi. Kemudian Nabi saw. keluar dari kamar istrinya menuju mereka. Nabi melihat para sahabat sepertinya merasa keheran-heranan karena bergegasnya beliau. Kemudian beliau saw. berkata, “Aku bergegas dari shalat karena aku ingat suatu lantakan emas yang masih tersimpan di rumah kami. Aku tidak suka jika barang itu menahanku, maka aku memerintahkan (kepada istriku) untuk membagi-bagikannya .”

Dalam riwayat Muslim yang lain Nabi saw. bersabda:
Aku meninggalkan sebuah lantakan emas dari zakat di rumahku dan aku tidak suka menahannya .
Hadits ini memberi petunjuk kepada kaum Muslim agar bersegera dan cepat-cepat melaksanakan perkara yang telah diwajibkan Allah Swt. kepada mereka.

Contoh mengsegerakan perintah Allah yang di lakukan oleh para sahabat :

  • Al-Bukhâri meriwayatkan dari al-Barrâ’, beliau berkata:

Ketika Rasulullah datang ke Madinah, maka Rasulullah saw. shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan; dan Beliau lebih menyukai untuk menghadap Ka’bah. Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya, “Sungguh Aku telah melihat bolak-baliknya wajahmu ke Langit agar Aku menghadapkanmu ke Kiblat yang kamu sukai.” Maka Nabi saw. pun shalat menghadap ke Ka’bah. Pada saat itu ada seorang laki- laki yang shalat Ashar bersama beliau saw., kemudian ia keluar menuju kaum Anshar, dan berkata dirinya bersaksi bahwa ia shalat bersama Nabi saw. dan beliau menghadap ke Ka’bah. Maka kaum Anshar pun mengubah arah Kiblat mereka (menghadap ke Ka’bah) padahal mereka sedang ruku shalat Ashar.

  • Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Ibnu Abî Aufâ ra., beliau berkata:

Kami ditimpa kelaparan pada beberapa malam saat perang Khaibar, dan kami menemukan keledai kampung, kemudian kami menyembelihnya. Maka ketika kuali telah mendidih, mendadak berteriak juru bicara Rasulullah saw., “Matikanlah kuali itu dan kalian jangan makan daging keledai jinak itu sedikit pun.” Abdullah berkata; Kami pada saat itu mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang memakan keledai jinak itu hanya karena belum dibagi lima (karena harta rampasan perang) .” Tapi sahabat yang lain berkata, “Keledai jinak itu diharamkan secara mutlak.”
Kemudian aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair, dan ia menjawab, “Keledai jinak itu diharamkan secara mutlak.”

  • Al-Bukhâri telah meriwayatkan dari Anas bin Mâlik ra., beliau berkata:

Suatu hari aku memberi minum kepada Abû Thalhah al-Anshary, Abû Ubaidah bin al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab dari Fadhij, yaitu perasan kurma . Kemudian ada seseorang yang datang, ia berkata, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan.” Maka Abû Thalhah berkata, “Wahai Anas, berdirilah dan pecahkanlah kendi itu!” Anas berkata, “Maka aku pun berdiri mengambil tempat penumbuk biji- bijian milik kami, lalu memukul kendi itu pada bagian bawahnya, hingga pecahlah kendi itu.”

  • Ibnu Ishak berkata, “Al-Asy’ats bin Qais telah mendatangi Rasulullah saw. bersama delegasi dari Bani Kindah.” Az-Zuhry telah

menceritakan kepadaku bahwa al-Asy’ats bin Qais datang bersama delapan puluh orang Bani Kindah yang berkendaraan. Kemudian mereka masuk menemui Rasulullah saw. di Masjid beliau. Mereka mengikat rambut mereka yang ikal dan memakai celak mata serta memakai jubah bagus yang dilapisi sutra. Ketika mereka masuk menemui Rasulullah saw., beliau saw. berkata kepada mereka, “Apakah kalian sudah masuk Islam?” Mereka menjawab, “Benar.” Rasul saw. berkata, “ Kenapa sutra itu masih melekat di leher kalian?” Az-Zuhry berkata, “Maka mereka pun merobek-robek sutra tersebut dan melemparkannya.”

  • Ibnu Jarîr telah meriwayatkan dari Abû Buraidah dari bapaknya, beliau berkata; Ketika kami sedang duduk-duduk
    menikmati

minuman di atas pasir, pada saat itu kami bertiga atau berempat. Kami memiliki kendi besar dan meminum khamr karena masih dihalalkan. Kemudian aku berdiri dan ingin menghampiri Rasulullah saw. Lalu aku mengucapkan salam kepada beliau, tiba- tiba turunlah ayat tentang keharaman khamr:
Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamr dan judi …, sampai akhir dua ayat yaitu:
Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) .
Maka aku datang kepada sahabat-sahabatku (yang sedang minum khamr) dan membacakan ayat tersebut kepada mereka sampai pada firman Allah :Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) .
Dia (perawi hadits) berkata, “Sebagian di antara mereka minumannya masih ada di tangannya, sebagiannya telah diminum, dan sebagian lagi masih ada di wadahnya.” Dia berkata, “Sedangkan gelas minuman yang ada di bawah bibir atasnya, seperti yang dilakukan oleh orang yang membekam (gelasnya masih menempel di bibirnya), kemudian mereka menumpahkan khamr yang ada pada kendi besar mereka seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah berhenti.””

  • Ahmad telah mengeluarkan hadits dari Abû Râfi’ bin Khadîj, beliau berkata:

Kami pada masa Nabi membajak tanah, kemudian menyewa- kannya dengan (mendapat bagi hasil) sepertiga atau seperempatnya dan makanan tertentu. Pada suatu hari datanglah kepada kami salah seorang pamanku, ia berkata, “Rasulullah saw. telah melarang suatu perkara yang dulu telah memberikan manfaat (duniawi) bagi kita. Tapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih bermanfaat bagi kita. Beliau telah melarang kita membajak tanah kemudian menyewakannya dengan imbalan sepertiga atau seperempat, dan makanan tertentu. Rasulullah saw. memerintahkan pemilik tanah agar mengolahnya atau menanaminya sendiri. Beliau tidak menyukai penyewaan tanah dan yang selain itu.

begtulah saudaraku yang telah di lakukan oleh para sahabat, ketika perintah datang mereka langsung mengerjakannya. terus bagaimana dengan kita? mari kita mencontoh para sahabat yang gigih dalam bergegas menjalankan perintah Allah.

semua Hadis di atas di ambil dari :
kitab Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah
Dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: