Ketika Kebenaran Tak Selamanya Harus Indah

Ada suatu kisah menarik yang pernah di paparkan oleh Ibnu Qayyim Aj Jauziyyah. Katanya Dulu pernah ada seorang lelaki –semoga Allah memberinya hidayah- mempermainkan seekor semut kecil. Ketika itu ia meletakkan kaki belalang sebagai umpannya di depan semut kecil. Betapa gembiranya semut kecil melihat apa yg ia lihat di depannya. Dengan sepenuh tenaga dia pun mengangkatnya. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu karna baginya berat dan akhirnya dia pun memanggil teman-temannya untuk mengangkatnya bersama-sama.

Ketika sampai disana, kaki belalang sudah tidak ada lagi karna di angkat oleh lelaki tadi. Semut kecil itu pun kebingungan, mnecari kesana kemari dan berusaha meyakinkan temannya bahwa ia tidak berbohong. Namun apa daya, teman2nya mendiamkan dan kembali ke rumah masing2 seolah2 tidak menggubris semut malang ini.

Ketika semut kecil itu sendirian, si lelaki tadi mengembalikan kaki belalang yang pernah di angkatnya ke tempat semula. Si semut pun terkejut, dia benar-benar gembira karna kaki belalang yang dia lihat bahwa itu nyata dan ia bukan hanya sekedar mimpi. Ia berusaha mengangkatnya sendirian dan membuktikakan kepada teman2nya. Karena tidak kuat, ia terpaksa kembali memanggil teman2nya. Malang, ketika sesampainya disana lagi-lagi kaki belalang tersebut diangkat oleh lelaki tadi. Mereka mencari kesana kemari tanpa melihat sesuatu apapun. Teman2nya kembali ke tempat masing2 dengan hati penuh kecewa.

Tentu saja semut kecil tadi merasa sangat terpukul, dia di anggap pembohong oleh teman2nya. Semut kecil itu pun bersedih. Di tengah kesedihannya, lelaki tadi mengembalikan lagi kaki belalang ke tempat semula. Kali ini semut kecil mengangkatnya sendirian. Dia kerahkan seluruh tenaga, mencoba segala cara untuk mengangkat kaki belalang tadi. Namun apa daya, kekuatan yang dia punya tidak mampu mengangkatnya, jangankan untuk mengangkat, menggesernya pun dia tidak bisa.

Dengan penuh keterpaksaan ia kembali meminta bantuan teman2nya. Teman2nya pun datang memenuhi permintaan dari semut kecil tadi. Tetapi lagi-lagi, ketika sesampainya disana mereka tidak menemukan apa2. Kosong. Sama sekali tdak ada sesuatu pun yang bisa di jadikan bekal makanan, karna lagi2 kaki tersebut di angkat oleh lelaki tadi. Akhirnya mereka mengadili semut kecil yang di anggap sebagai pembohong. Tetapi semut kecil ini memohon belas kasihan dan mencoba menjelaaskan kepada teman2nya bahwa dia tidak berbohong. Jangankan untuk berbohong, niatan hati pun tidak pernah ada. Tetapi mau bagaimana lagi. Ia tidak bisa menjawab teman2nya untuk di pintai bukti. Akhirnya dia merelakan teman2nya untuk menghukum dirinya. Masing-masing semut menarik kaki semut kecil yang tak bersalah itu. Satu per satu kakinya terputus, setelah itu mereka meninggalkannya sendirian.

Komentar :

Dari cerita di atas kita bisa menemukan berbagai macam pelajaran, diantaranya adalah :
1. Berada dalam kebenaran itu tidak selamnanya terasa manis. Sudah menjadi kepastian bakal ada kepahitan di dalamnya. Namun jangan sampai kita berpaling dari kebenaran karna kita takut akan kepahitannya. Seperti semut di atas yang akhirnya merelakan kakinya demi berada dalam kebenaran.
2. Teringat hadis Rasulullah Saw yg menjelaskan bahwa sampaikanlah kebenaran itu walaupun terasa pahit. Kita bisa lihat bagaimana semut tadi, meskipun di cap sebagai pendusta dia masih berusha menyampaikannya, menyampaikan kebenaran supaya teman2nya mendapatkan makanan sehingga tidak kelaparan.
3. Setiap orang seharusnya mempunyai hp, agar kita tidak seperti semut tadi yang bisa di bodohi dengan hanya mengangkat kaki belalang aja. Berbeda cerita jika seandainya semut tadi punya hp, dia bisa saja menelpon pasukannya tanpa repot2 harus mendatangi ketempatnya langsung, sehingga kaki belalang masih bisa di jaga.😀

4 Tanggapan to “Ketika Kebenaran Tak Selamanya Harus Indah”

  1. Hani'y Ali Abu Hasan Says:

    subhanallah sangat bermanfaat. tapi,kalo ada hp tp gak ada pulsanya juga sama bohong😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: